Mewaspadai Teror, Bom, dan Islamofobia yang Merebak (Lagi)
![]() |
| Private Property by Canva.com. Instagram | @jahar_id |
Rangkaian teror bom diri di Rutan
Mako Brimob-Depok, Surabaya, dan Riau sungguh menyesakkan dada kita semua.
Kemanusiaan kembali tercabik-cabik dan kedamaian yang seharusnya tercipta
menjelang Ramadan dirusak oleh aksi yang kotor itu. Hati saya makin remuk membayangkan
usai rentetan teror demi teror—seperti pengalaman yang sudah-sudah, selalu yang
menjadi pihak tertuduh adalah simbol-simbol agama (Islam) seperti celana
cingkrang, jenggot, cadar dan yang lainnya.
Saya jadi teringat pada Serangan 9/11
di New York, Amerika Serikat. Betapa dahsyatnya efek usai serangan tersebut. Apa
yang terjadi pasca ledakan ini menjadi latar cerita dalam film My Name is
Khan yang diperankan oleh superstar Bollywood, Shahrukh Khan. Tragedi itu
menyebabkan Rizwan Khan (Sakhrukh Khan) dicurigai sebagai teroris hanya karena
nama belakang ‘Khan’ yang sangat identik dengan nama Muslim. Namun dia menolak tuduhan
dan stigma negatif itu. Dia berkata dan ucapannya ini sangat populer, “My
Name is Khan, and I am not terrorist!”
Namaku Khan dan aku bukan teroris, ucapan ini seakan mewakili umat Islam di
seluruh. Ucapan itu sama maknanya dengan ucapan, “Aku seorang Muslim, dan aku
bukan teroris.”
Kaum Muslim punya hak untuk
menolak tuduhan yang sangat menyakitkan itu. Pasalnya, meskipun dalam Islam ada
ajaran jihad, namun tidak bisa konsep jihad tersebut disamakan dengan aksi
teror. Islam itu terlalu indah, nyawa tumbuhan dan hewan saja diperhatikan saat
melakukan jihad, apalagi nyawa manusia. Salah satu etika dalam jihad adalah
tidak merusak tumbuhan, hewan, warga sipil terutama anak-anak, wanita, dan
orang tua. Tak cukup di situ, saat berjihad tidak boleh merusak tempat-tempat
ibadah. Tidak merusak tempat ibadah ini pula meliputi orang-orang yang sedang
menunaikan ibadah di dalamnya. Informasi ini sudah diketahui dan dipahami oleh
masyarakat Muslim.
Kita bisa telusuri lebih lanjut
Fatwa MUI No. 3 Tahun 2004, bahwa jihad dengan terorisme itu sungguh sangat
jauh berbeda. Terorisme bersifat merusak, anarkis dan dapat menyebabkan chaos.
Adapun jihad sifatnya melakukan perbaikan sekalipun dengan cara peperangan,
yang mana perang hanyalah opsi paling akhir. Terorisme bertujuan menciptakan
suasana yang penuh ketakutan dan menghancurkan pihak lain. Sedangkan jihad
bertujuan menegakkan agama Allah atau membela hak-hak pihak yang terzalimi.
Terorisme dilakukan tanpa aturan dan tanpa batas. Sementara jihad dilakukan
dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran musuh yang
sudah jelas. Menebarkan teror hukumnya haram, baik dilakukan oleh perorangan,
kelompok, maupun negara. Sedangkan jihad hukumnya wajib.
Lantas bisakah aksi bom bunuh
diri dan sejenisnya itu disamakan dengan syariat jihad dalam Islam yang begitu
luhur? Karena fakta yang terjadi pada berbagai kasus teror bom sangat bertentangan
dengan konsep jihad, maka dengan tegas Islam menentang terorisme. Terorisme
bukan bagian dari ajaran Islam.
Terorisme Musuh Kita Bersama
Sebelum serangkaian teror bom yang
baru-baru ini terjadi, berbagai aksi kekerasan yang juga bisa dikategorikan sebagai
terorisme adalah maraknya serangan ‘orang gila’ yang menyasar para ulama,
masjid, dan pondok pesanteren. Misalnya Masjid Baiturahim di Tuban yang dirusak
kaca dan pintunya oleh orang gila (Detik.com, 13/02/2018). Ada lagi kasus penganiayaan
yang menewaskan Ustaz Prawoto, Komandan Brigade Persis. Beliau dianinaya hingga
tewas oleh pelaku yang diduga mengalami depresi (Repulika.co.id (1/02/2018). Orang
Sinting juga masuk ke Ponpes Al-Hidayah di Pasuruan. KH. Mujtaba selaku
pengasuh ponpes menjadi korban karena tangannya ditarik hingga terjatuh dari
tempat tidurnya (Detik.com, 23/02/2018). Serangan orang gila juga menimpa KH.
Hakam Mubarak di Lamongan (Detik.com. 18/03/2018). Kiai Sutoyo, ketua MUI
Madiun juga mendapatkan teror dengan kehadiran seseorang ke rumahnya dan
mengawasi dirinya (BBC Indonesia, 23/02/2018).
Kasus penyerangan ini pola mirip
dengan kasus 1998-an dengan ragam dan istilah di berbagai kota. Kalau di
Banyuwangi istilahnya Dukun Santet. Sementara di daerah saya, Majalengka
disebut dengan istilah Ninja. Saya masih ingat saat itu masih bersekolah di SD.
Di kampung tempat saya sangat ramai para kiai yang menjadi target serangan
kelompok ninja. Rumah ulama yang menjadi sasaran mereka biasanya pintu rumahnya
ditandai dengan huruf X. Karena kondisi kampung yang genting, akhirnya warga
bergiliran ronda untuk menjaga rumah para kiai.
Berbagai kasus penganiayaan yang
menelan nyawa tersebut apakah bedanya dengan teror bom? Yang satu sejumlah
orang gila itu tidak bisa diseret ke pengadilan lantaran status gila (hilang
akal) tidak bisa dipidanakan. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah sebuah
kebetulan banyak orang gila yang menyerang dan targetnya sama, yaitu para
ulama? Sementara yang lainnya adalah bomber yang pelakunya tidak bisa diproses
hukum karena dia sudah mati, kecuali jika bomber itu gagal meledakkan diri. Jadi,
teror apa pun bentuk dan siapa pun pelakunya, semuanya harus kita perlakukan
sama. Kita harus perangi segala bentuk teror karena terorisme itu musuh kita
bersama.
Kekhawatiran Pun Terjadi
Inilah yang oleh umat Islam
khawatirkan. Tidak lama setelah rentetan ledakan bom bunuh diri itu terjadi,
kecurigaan dan prasangka pun muncul lagi. Seperti misalnya di Bali, wanita
bercadar bersama anaknya diperiksa polisi karena dicurigai sebagai teroris.
Namun setelah diperiksa, kecurigaan itu tidak terbukti sama sekali (SP/Beritasatu.com,
14/05/2018). Pemeriksaan juga dilakukan terhadap sepasang suami istri
berdasarkan laporan warga di daerah Bali. Kecurigaan itu muncul karena istrinya
mengenakan cadar dan tas ransel. Namun setelah diperiksa, keduanya tidak
terindikasi sebagai teroris (Baliberkarya.com, 14/05/2018).
Marilah kita belajar kita dari Tragedi
9/11, jangan sampai ledakan demi ledakan bom yang meneror Indonesia ini
menjadikan Islam dan syariatnya seperti jihad, cadar, jenggot, khilafah dan
ajaran lainnya sebagai kambing hitam. Jangan biarkan kecurigaan dan prasangka
makin membesar hingga melahirkan kembali Islamofobia seperti yang pernah
terjadi di dunia Barat pasca Tragedi 9/11. Semoga Indonesia ke depan tetap aman
dan mampu membasmi terorisme dengan segala bentuk teror yang merugikan seluruh rakyat
Indonesia dengan tepat sasaran.

Komentar
Posting Komentar